Prinsip Aufbau untuk Subkulit 3d dan 4s

Prinsip Aufbau untuk Subkulit 3d dan 4s
Kalau subkulit 3d dan 4s masih kosong, seperti pada atom belerang atau atom fosfor, subkulit 3d masih lebih rendah dari 4s. Perhatikan konfigurasi elektron atom S pada keadaan dasar belum mencapai 3d dan 4s yaitu 1s² 2s² 2p⁶ 3s² 3p⁴. Jadi, selama elektron belum mengisi subkulit tersebut, urutan tingkat energinya masih ke kanan pada diagram di bawah ini.
1s
2s 2p
3s 3p 3d
4s 4p 4d 4f
5s 5p .. dst.
 yang berarti energi 3s < 3p < 3d < 4s < 4p < 4d < 4f < 5s dst.

Larutan Penyangga Berdasarkan tinjauan Representasi Submikroskopik

Oleh :  Ida Farida Ch

Larutan penyangga sangat penting dalam kehidupan, terutama dalam pengaturan pH pada sistim biologi. 

Komponen Larutan Penyangga

Larutan penyangga dapat berupa; 
1)  larutan penyangga asam, komponennya : asam lemah (HA) dan basa konjugatnya (A-
2) larutan penyangga basa,  komponennya : basa lemah (B) dan asam konjugatnya (BH+).

Secara makroskopik terdapat perbedaan yang nyata antara larutan yang hanya mengandung asam lemah (HA) dengan larutan penyangga dengan komponen asam lemah (HA) dan basa konjugatnya (A-) , meskipun spesi-spesi utama yang terkandung dalam ke dua larutan itu sama.



Prinsip Kerja Larutan Penyangga

Cara kerja larutan penyangga  dapat dijelaskan dengan melalui fenomena yang dikenal sebagai pengaruh ion senama atau common-ion effect (Silberberg, 2009 ; Mc Murry & Fay, 2012).  

Contohnya : pengaruh ion senama yang terjadi  ketika  ke dalam asam asetat yang terdisosiasi dalam air ditambahkan sejumlah natrium asetat. 
Asam asetat hanya sedikit terdisosiasi dalam air, seperti dinyatakan dalam persamaan berikut ini : CH3COOH (aq) + H2O (l)⇄  CH3COO- (aq) +  H3O+  (aq)        
Natrium asetat menyuplai ion senama, yaitu ion CH3COO-  ke dalam sistem kesetimbangan tersebut. Penambahan ion senama CH3COOakan menggeser posisi kesetimbangan ke arah pembentukan kembali reaktan (ke kiri), sedangkan konsentrasi ion H3O+ menurun, sebagai efek untuk menurunkan   terjadinya disosiasi asam.

Hal yang sama terjadi, jika sejumlah asam asetat dilarutkan dalam larutan natrium asetat (atau ion asetat dan ion H3O+ dari asam asetat masuk ke dalam larutan garam natrium asetat).  Ion-ion asetat yang sudah ada dalam larutan bertindak menekan disosiasi asam sehingga disosiasinya menjadi tak sebanyak bila dalam air murni, akibatnya konsentrasi ion H3O+ dalam larutan tetap rendah (pH tinggi).   Efek menurunkan atau ‘menekan’ terjadinya disosiasi asam asetat oleh ion asetat yang ditambahkan itulah yang disebut dengan pengaruh ion senama (common ion effect).  
Berikut ini diagram  yang menjelaskan pengaruh ion senama terhadap kesetimbangan disosiasi asam asetat.



Bila larutan penyangga ditambahkan sedikit asam kuat ataupun basa kuat (ion H3O+ atau OH-), pH larutan cenderung tidak mengalami perubahan, hingga kapasitas penyangga tertentu. Pengaruh penambahan ion H3O+ atau ion OH- digambarkan melalui diagram berikut ini :
Gambar . Representasi submikroskopik dan simbolik cara kerja larutan penyangga (diadaptasi dari Silberberg, 2009)
Kapasitas Penyangga

Kemampuan larutan penyangga untuk tetap dapat mempertahankan pH disebut kapasitas larutan penyangga. Kemampuan ini tergantung pada   harga pKa dan jumlah molar relatif dari pasangan asam-basa konjugat. Penting untuk diperhatikan bahwa pH larutan penyangga berbeda dengan kapasitas penyangga. Suatu larutan penyangga yang dibuat dari volume yang sama 1,0 M CH3COOH dan  1,0 M CH3COO-  memiliki pH yang sama, yaitu 4,7  dengan larutan penyangga yang dibuat dari volume yang sama 0,1 M CH3COOH dan  0,1 M CH3COO-. Namun larutan penyangga yang lebih pekat memiliki kapasitas penyangga yang lebih besar. 

Kapasitas penyangga dipengaruhi oleh konsentrasi relatif dari komponen penyangga. Suatu larutan penyangga paling efektif jika perbandingan konsentrasi asam lemah dan basa konjugat = 1. 

Larutan penyangga dapat efektif pada rasio konsentrasi asam-basa berada pada kisaran: 0,1 < [basa konjugat]:[asam] < 10. 

Dengan menggunakan persamaan Henderson-Hasselbalch dapat dihitung pH maksimum dan minimum yaitu pada kisaran pH = pKa ± 1.
pH = pKa + log [basa konjugat]/[asam lemah] 

Jadi ketika memilih suatu asam untuk membuat larutan penyangga, maka dipilih salah satu asam yang memiliki harga pKa mendekati pH yang diinginkan. 

Perhitungan pH larutan Penyangga digambarkan dalam diagram berikut ini :





Gerakan Autocorrect Kimia ala AGKI

Deklarasi AGKI telah dilakukan pada hari Minggu, tanggal 22 Januari 2017, di Gedung LPMP DKI Jakarta. Deklarasi tersebut dihadiri oleh guru kimia yang berasal dari propinsi seluruh Indonesia. Selain deklarasi dan musyawarah pengurus AGKI juga diadakan presentasi dari pembina AGKI, dan demontrasi khas anggota AGKI.

Salah satu kegiatan tersebut bertajuk "Teknologi Informasi (TI) untuk Mendukung Pengajaran Kimia" yang disampaikan oleh salah satu pengelola grup diskusi Asosiasi Guru Kimia Indonesia di situs facebook.com. Fokusnya pada hal mendasar yang diperlukan setiap guru kimia terkait penggunaan TI. Kebutuhan mendasar untuk keseharian guru kimia dalam administrasi adalah kemampuan mengetik secara cepat dan akurat serta efisien, terutama untuk membuat naskah akademik atau perangkat pengajaran. Ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan aplikasi olah kata yang sudah dikenal lama oleh semua orang.

Foto Bersama Perwakilan Propinsi

Pada kegiatan AGKI pertama kali di setiap daerah, ini akan menjadi program pelatihan awal bagi yang membutuhkan. Pelatihan ini biasanya dilakukan secara tatap muka. Meskipun pada suatu waktu tutorial autocorrect dapat dilakukan secara daring (online). Setiap hari terjadi diskusi intens tentang autocorrect ini bila ada anggota AGKI ingin mendalami. Siapapun anggota AGKI yang sudah bisa wajib  membantu guru kimia (rukim) lain hingga bisa. Karena ini adalah hal yang relatif mudah, mudah digunakan dan mudah dimodifikasi, setiap rukim dapat terus menularkan ke rukim lain. Falsafah selang air yang layak untuk diikuti adalah "mengalirkan air pada siapapun yang membutuhkan".

Jika ingin mempelajari tentang autocorrect kimia, silakan bergabung dalam grup AGKI di facebook. Dari grup ini setiap anggota biasanya rela berbagi pengalaman baik autocorrect itu sendiri maupun yang lain. Dapatkan kenyamanan belajar bersama untuk meningkatkan komptensi diri sebagai rukim.

Kesetimbangan Larutan Asam dan Basa

Penulis : Ida Farida Ch #JB160155SOR

Kesetimbangan larutan asam-basa merupakan konsep yang mendeskripsikan bagaimana perilaku spesi-spesi asam dan basa dalam pelarut air. 

Ketika suatu asam atau basa dilarutkan dalam air, cara yang lebih tepat untuk menjelaskan fenomena tersebut adalah dengan memandangnya sebagai suatu reaksi kesetimbangan asam-basa dengan merujuk pada konsep asam-basa Bronsted-Lowry. 
Berdasarkan konsep Bronsted-Lowry,  dapat diprediksi kecenderungan sifat asam-basa dan kekuatan relatif asam-basa. 

Menurut konsep Bronsted-Lowry : Reaksi asam-basa merupakan reaksi transfer proton dari satu spesi/partikel ke spesi/partikel lain.

Ada tiga jenis reaksi reversible asam dan basa yang melibatkan terjadinya reaksi transfer proton, yaitu :

Autoionisasi air : 
Reaksi transfer proton yang terjadi antara molekul-molekul air menghasilkan ion hidronium dan ion hidroksida.   Berikut ini visualisasi terjadinya   Reaksi transfer proton pada autoionisasi air (klik link video https://youtu.be/dAMx_vB6_4E).
Persamaan reaksi  autoionisasi air : H2O (l) + H2O (l)  ⇄  H3O+ (aq) + OH (aq).  
Dengan demikian, di dalam air murni terkandung molekul-molekul H2O, ion-ion H3Odan  OH-  yang terhidrasi dalam pelarut air (tanda aq: menunjukkan bahwa ion-ion tersebut terhidrasi dalam pelarut air). Oleh karena, diketahui harga tetapan kesetimbangan air (Kw ) pada suhu 25oC adalah 10-4 maka konsentrasi ion H3Odan  OH-  dalam  air  adalah 10-7 M.

Reaksi disosiasi asam


Reaksi transfer proton antara asam dengan air menghasilkan basa konjugat dan ion hidronium. 
Visualisasi reaksi transfer proton pada disosiasi asam dapat dilihat di https://youtu.be/d8enF2tdGww (klik link)
Persamaan reaksi umum : HA + H2O (l)     H3O(aq)  +  A-(aq)
Reaksi disosiasi basa: 


Reaksi transfer proton antara  basa dengan air menghasilkan asam konjugat dan ion hidroksida. 
Visualisasi reaksi transfer proton pada disosiasi basa dapat dilihat di https://youtu.be/6NhET8rdMDQ (klik link)

Persamaan reaksi umum : B   +  H2O (l)      BH+  (aq)  + OH-  (aq)

Dengan menggunakan nilai tetapan kesetimbangan disosiasi asam (Ka) dan tetapan kesetimbangan disosiasi basa (Kb), dapat diprediksi ke arah mana reaksi transfer proton lebih dominan berlangsung dan kekuatan relatif pasangan asam-basa Bronsted –Lowry.

Semakin kecil harga Ka atau Kb menunjukkan reaksi lebih dominan berlangsung ke arah pembentukan kembali reaktan. Sebaliknya semakin besar harga Ka dan Kb menunjukkan reaksi lebih dominan berlangsung ke arah pembentukan produk. 

Semakin besar nilai Ka, maka semakin kuat sifat keasamannya. Demikian pula semakin besar nilai Kb semakin kuat sifat basanya. Jadi, baik asam kuat maupun basa kuat harga Ka dan Kb sangat besar (K>>1) atau hampir 100% (seluruhnya) terurai membentuk ion-ion.

Berdasarkan berbagai penelitian, sering terjadi miskonsepsi mengenai kekuatan asam. Siswa menggunakan kriteria nilai pH dari larutan untuk membedakan asam lemah dan asam kuat.

Untuk menghindarkan hal tersebut, larutan asam kuat dan asam lemah dapat dibedakan dengan cara merepresentasikan level submikroskopik menggunakan diagram model molekul bola padat yang dihubungkan dengan level makroskopik dan submikroskopik seperti pada gambar berikut ini :

Gambar 1. Tiga level representasi larutan asam kuat dan asam lemah 
(diadaptasi dari Brown dan Bursten, 2009)

Catatan : Untuk menghindari keruahan pada representasi di atas, molekul-molekul air pelarut tidak ikut digambarkan. Spesi-spesi yang digambarkan dalam representasi tersebut hanya spesi yang mengalami perubahan (rasio) setelah proses transfer proton berlangsung, yaitu molekul HA, ion A- dan ion H3O+. 

Gambar berikut ini (gambar 2), juga dapat digunakan untuk memvisualisasikan konsep kekuatan asam :




Kesetimbangan Kelarutan

Penulis : Ida Farida Ch. #JB160155SOR 

Pada umumnya zat elektrolit larut sempurna dalam air, tetapi beberapa garam dan basa tertentu sukar larut dalam air.  Zat elektrolit sukar larut mengalami kesetimbangan dinamis antara ion-ion terlarut dan zat padat yang tak larut. Kesetimbangan ini disebut kesetimbangan kelarutan.

Contoh:    
Larutan jenuh garam CaF2  berada dalam keadaan terdisosiasi sebagai ion-ion terhidrasi Ca2+(aq) dan F-(aq).  

Berikut ini digambarkan representasi makroskopik dan submikroskopik larutan CaF2 jenuh :

Gambar 1. Representasi level makroskopik dan submikroskopik larutan jenuh CaF2 (Mc Murry & Fay, 2006)
Pada keadaan kesetimbangan, berapapun banyaknya zat  yang dilarutkan, konsentrasi ion-ion tetap konstan, karena secara bersamaan terjadi proses disosiasi kristal  CaF2 menjadi Ca2+ (aq) dan  F- (aq) dan proses terbentuknya kembali kristal-kristal padat CaF2
Persamaan reaksi kesetimbangan larutan jenuh CaF2 dituliskan sebagai berikut :   
CaF2 (s)  ⇄  Ca2+(aq)+ 2F- (aq). 
Pada keadaan jenuh, hasil kali konsentrasi molar ion-ion terlarut dipangkatkan koefesiennya masing masing disebut Ksp (disebut juga konstanta hasil kali kelarutan).
   Untuk persamaan reaksi  di atas harga Ksp = [Ca2+] . [F-]2
      
Contoh lain :  Perak kromat (Ag2CrO4) merupakan contoh garam yang sukar larut dalam air. Jika kita memasukkan sedikit saja kristal garam itu ke dalam segelas air kemudian diaduk, kita akan melihat bahwa sebagian besar dari garam itu tidak larut (mengendap di dasar gelas). 
Larutan perak kromat mudah sekali jenuh, setelah mencapai keadaan jenuh, proses melarut (terhidrasinya ion-ion garam oleh pelarut air) tidak terhenti dan pada saat yang sama terjadi proses pengkristalan  (dengan laju yang sama). 
Dengan kata lain, dalam keadaan jenuh terdapat kesetimbangan antara zat padat tak larut dengan larutannya (ion-ion yang larut). 

Kesetimbangan dalam larutan jenuh perak kromat adalah sebagai berikut:
Ag2CrO4 (s)   ⇄    2Ag+ (aq) + CrO42- (aq)
Secara umum, persamaan kesetimbangan larutan garam AxBy sebagai berikut:
AxBy (s)  ⇄   xAy+ (aq) + yBx- (aq)          Ksp = [Ay+]x [Bx-]y
QUOTION REAKSI  (Qc) = Hasil kali ion-ion zat terlarut
Quotion reaksi (Qc) merupakan hasil kali konsentrasi molar awal dari ion-ion dalam larutan dengan asumsi zat terionisasi sempurna. Harga Qc dapat digunakan untuk menentukan ke mana arah reaksi harus berlangsung agar mencapai kesetimbangan, yaitu :
Qc < Ksp, larutan belum jenuh, karena semua zat padat elektrolit terlarut.  Kesetimbangan tercapai bila konsentrasi ion-ion dinaikkan, hingga Qc = Ksp
Qc = Ksp, larutan dalam keadaan kesetimbangan (larutan jenuh).
Qc > Ksp, terjadi pengendapan. Kesetimbangan dapat tercapai dengan  menurunkan  konsentrasi ion-ion terlarut hingga Qc = Ksp.
Seringkali terjadi pengertian yang keliru pada saat Qc > Ksp .Banyak buku teks pada kondisi tersebut menyatakan larutan berada dalam keadaan lewat jenuh.  Tentu saja hal tersebut keliru, mengapa demikian ? 
Keadaan larutan lewat jenuh hanya dicapai jika, pada saat Qc > Ksp ,  secara  perlahan larutan dinaikkan suhunya sampai zat-zat melarut kembali, kemudian ditambahkan lagi zat terlarut terus menerus (sambil terus dinaikkan suhunya) sehingga tercapai keadaan larutan benar-benar jenuh dengan zat terlarut. 
Jika larutan  lewat jenuh kembali pada suhu kamar, akan terbentuk kristal-kristal. teknik ini sering dimanfaatkan untuk menghasilkan kristal-kristal garam yang indah bentuknya.


Kondisi larutan jenuh dan belum jenuh dapat dibedakan secara submikroskopik dengan bantuan simulasi yang dapat diunduh gratis pada link berikut ini :

Salts & Solubility
Click to Run

PENGARUH ION SENAMA DAN pH
Sebagai suatu reaksi kesetimbangan, kesetimbangan kelarutan dipengaruhi oleh ion-ion senama dan pH larutan, sehingga mempengaruhi pula kelarutan zat padat elektrolit yang bersangkutan. 
Contoh pada reaksi : CaF2 (s)  ⇄  Ca2+(aq)+ 2F- (aq).
Penambahan ion Ca2+  ataupun ion F- ke dalam larutan, akan menggeser arah kesetimbangan ke arah pembentukan padatan CaF2 (s) atau memperkecil jumlah ion-ion terlarut dalam larutan (memperkecil kelarutan.
Jadi penambahan ion senama akan memperkecil kelarutan. Namun tidak mempengaruhi harga tetapan hasil kali kelarutan, asal suhu tidak berubah. 

Pengaruh pH terhadap kelarutan dapat dilihat pada gambar 2.  berikut ini  :



Silakan didiskusikan, jika ada hal-hal yang perlu penjelasan lebih lanjut.
Semoga bermanfaat.

Definisi :


  • Kesetimbangan Kelarutan : Pada kesetimbangan  kelarutan terjadi  kesetimbangan dinamis  antara zat padat elektrolit tak larut dengan ion-ionnya yang terlarut dalam larutan jenuh.
  • Ksp menyatakan  ukuran terjadinya kesetimbangan antara zat padat elektrolit tak larut dengan ion-ionnya dalam larutan jenuh. Ksp dihitung dari  hasil kali konsentrasi ion-ion yang terlarut dipangkatkan koefisien reaksi pada keadaan  larutan jenuh.
  • Larutan jenuh merupakan larutan yang mengalami kesetimbangan kelarutan, harga Ksp = Qc
  • Qc menyatakan  hasil kali konsentrasi molar awal dari ion-ion terlarut dalam larutan elektrolit dipangkatkan koefisien reaksi. 
  • Kelarutan merupakan jumlah maksimum  suatu zat terlarut yang dapat larut dalam sejumlah pelarut  pada suhu tertentu




Analisis Konsep Pada Pengembangan Pembelajaran Kimia

Analisis Konsep Pada  Pengembangan Pembelajaran Kimia
Penulis : Ida Farida Ch. #JB160155SOR

Untuk menentukan konsep-konsep yang dikembangkan dalam pembelajaran diperlukan analisis konsep . Hasil analisis konsep dapat digunakan antara lain untuk :

  • merencanakan urutan pembelajaran konsep
  • tingkat-tingkat pencapaian konsep yang diharapkan dikuasai oleh siswa 
  • menentukan metode dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik konsep.

Berdasarkan definisi konsep menurut Gagne (1977), konsep merupakan suatu abstraksi yang melibatkan hubungan antar konsep (relational concepts) dan dapat dibentuk oleh individu dengan mengelompokkan obyek, merespon obyek tersebut dan kemudian memberinya label (concept by definition). Oleh karena itu, suatu konsep mempunyai karakteristik berupa hirarki konsep dan definisi konsep.

Selain karakteristik tersebut, Herron (1977) mengidentifikasi karakteristik yang dimiliki konsep meliputi: label konsep, atribut konsep (atribut kritis dan atribut variabel) dan jenis konsep.
Dengan demikian dalam analisis konsep, perlu diidentifikasi karakteristik konsep, yang meliputi ; label konsep, definisi konsep, atribut konsep, hirarki konsep, jenis konsep, contoh dan noncontoh.


  1. Label Konsep adalah nama konsep atau sub konsep yang dianalisis. Contoh label konsep ; unsur, senyawa, atom, larutan, dan lain-lain. 
  2. Definisi Konsep. Label konsep didefinisikan sesuai dengan tingkat pencapaian konsep yang diharapkan dari siswa. Untuk suatu label konsep yang sama, konsep dapat didefinisikan berbeda sesuai dengan tingkat pencapaian konsep yang diharapkan dikuasai siswa dan tingkat perkembangan kognitif siswa. 
  3. Atribut kritis dan atribut variable. Atribut kritis merupakan ciri-ciri utama konsep yang merupakan penjabaran definisi konsep. Atribut variabel menunjukan ciri-ciri konsep yang nilainya dapat berubah, namun besaran dan satuannya tetap. 
  4. Hirarki Konsep menyatakan hubungan suatu konsep dengan konsep lain berdasarkan tingkatannya, yaitu : - konsep superordinat (konsep yang tingkatannya lebih tinggi) - konsep ordinat (konsep yang setara) - konsep subordinat (konsep yang tingkatannya lebih rendah). Hirarki konsep dapat direpresentasikan dalam bentuk peta konsep dan digunakan untuk menentukan urutan pembelajaran konsep. 
  5. Jenis Konsep. Umumnya jenis konsep dikelompokkan menjadi dua, yaitu konsep konkrit dan konsep abstrak. Namun dalam ilmu kimia, terdapat banyak konsep yang sukar dikelompokkan dengan jelas ke dalam konsep konkrit ataupun abstrak.

Oleh karena itu Herron (1977) mengembangkan jenis-jenis konsep menjadi delapan jenis konsep, yaitu sebagai berikut:

  1. Konsep konkrit, yaitu konsep yang atribut kritis dan atribut variabel dapat diidentifikasi, sehingga relatif mudah dimengerti, mudah dianalisis dan mudah memberikan contoh dan noncontoh. Contoh konsep konkrit antara lain: gelas kimia, tabung reaksi, batu baterai, sel aki, sel Volta. 
  2. Konsep abstrak, yaitu konsep yang atribut kritis dan atribut variabelnya sukar dimengerti dan sukar dianalisis, sehingga sukar menemukan contoh dan noncontoh. Konsep seperti ini relatif sukar untuk diajarkan/dipelajari, karena tidak mungkin mengkomunikasikan informasi tentang atribut kritis konsep ini melalui pengamatan langsung. Oleh karena itu, diperlukan model-model atau ilustrasi yang mewakili contoh dan noncontoh. Contoh konsep abstrak antara lain: atom, molekul, inti atom, ion, proton, neutron. 
  3. Konsep abstrak dengan contoh konkrit, yaitu konsepnya mudah dikenali, namun mengandung atribut sukar dimengerti, sehingga sukar membedakan contoh dan noncontoh. Contohnya antara lain: unsur, senyawa, elektrolit. 
  4. Konsep berdasarkan prinsip, yaitu konsep yang memerlukan prinsip-prinsip pengetahuan untuk menggunakan dan membedakan contoh dan noncontoh. Contohnya antara lain: konsep mol, beda potensial. 
  5. Konsep yang menyatakan simbol, yaitu konsep yang mengandung representasi simbolik berlandaskan aturan tertentu. Contohnya antara lain: rumus kimia, rumus, persamaan. 
  6. Konsep yang menyatakan nama proses, yaitu konsep yang menunjukkan terjadinya suatu ‘tingkah-laku’ tertentu. Contohnya antara lain: destilasi, elektrolisis, disosiasi, oksidasi, meleleh. 
  7. Konsep yang menyatakan sifat dan nama atribut. Konsep-konsep seperti: massa, berat,muatan listrik, muatan, frekuensi, bilangan oksidasi, dan mudah terbakar merupakan atribut atau ciri-ciri suatu obyek. 
  8. Konsep yang menyatakan ukuran atribut. Sama seperti diatas, namun bentuknya berupa satuan ukuran untuk atribut. Contohnya antara lain satuan konsentrasi: molaritas, molalitas, normalitas, ppm, pH. 
Hasil analisis konsep dapat dipetakan dalam bentuk Peta Konsep. 


Contoh analisis konsep dan peta konsep :
https://drive.google.com/open?id=0B81_bJSEZUDoMC1iMWlrRjlvd1BiTDNBQ1NkUzBtOGdOWU9v

Refferens:

Herron, J. Dudley., et. al. (1977). Problems Associated With Concept Analysis. Journal of Science Education, (61)2: 185 – 199. http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/sce.3730610210/abstract

Blanko Adminitrasi Lab Kimia

Blanko Adminitrasi Lab Kimia
Berikut ini adalah pranala untuk blanko adminitrasi lab kimia kiriman rekan Tri Lestari anggota AGKI (#‎JT160076KBM‬). Semua file dalam format doc dan xls.
  1. K_01 Renc Keb Thnan Lab Kim Habis Pakai
  2. K_02 Renc Keb Thnan Sarpras Tdk Hbs Pki
  3. K_03 Renc Pengemb Lab Kim Tdk Hbs Pki
  4. K_04 Usulan Keb Lab Kim Di luar Keb Thnan
  5. K_05 Daftar Inventaris Lab Kim Hbs Pakai
  6. K_06 Daftar Inventaris Lab Kim Tdk Hbs Pakai
  7. K_07 Inventaris Lab Kim Tidak Habis Pakai(Gudang)
  8. K_08 Inventaris LAb Kim Habis Pakai (Gudang)
  9. K_09 Laporan Kerusakan Barang
  10. K_10 Rekap Laporan Kerusakan Lab Kim
  11. K_11 Kartu Kerusakan Lab Kim
  12. K_12 Laporan Kehilangan Lab Kim
  13. K_13 Formulir Peminjaman Lab Kim
  14. K_14 Pengembalian Inv Lab Kim
  15. K_15 Rekap Bantuan Lab Kim (Gudang)
  16. K_16 Laporan Tahunan Inv Lab Kim
  17. K_17 Kartu Pemakaian Alat Kim
  18. K_18 Kartu Perawatan Alat Kim
  19. K_19 Kartu Persediaan Barang Gudang
  20. K_20 Susunan Panitia Pengadaan Alat
  21. K_21Kebutuhan Bahan Lab Kim
  22. K_22 Data Personil Lab Kim
  23. K_23 Struktur organisasi Lab Kim
  24. K_24 Laporan Kehilangan Kepemilikan Siswa
  25. K_25 Rekap Usulan Pengadaan Alat Lab Kim
  26. K_26 Form Penanganan Kerusakan Alat
  27. K_27 Program Perawatan Rutin Alat
  28. K_28 Daftar Inventaris Komputer Lab Kim
  29. K_29 Bon Pengeluaran Alat
  30. K_30 Daftar Seleksi Calon Pemasok
  31. K_31 Rekap Daftar Calon Pemasok
  32. K_32 Daftar Calon Pemasok
  33. K_33 Verifikasi Alat yang dibeli
  34. K_34 Jadwal praktikum kimia
  35. K_35 Daftar bahan kimia
  36. K_35 Daftar bahan kimia-blanko kosong
  37. K_36 Tata tertib lab kimia
  38. SAMPUL_TUGAS_WORKSHOP
Selamat memanfaatkan dengan bijak. Terima kasih.
go top